Mantra SSS “Saring sebelum Sharing” Part 1

Halo guys,
sobat damai.

Era digital benar-benar membawa perubahan yang massive bagi peradaban umat manusia di bumi. Klo di luar planet bumi, saya belum dapat bocoran informasinya sob. Ini khusus bagi manusia yang hidup, tumbuh besar, beranak-pinak di bumi yaa…

Kehidupan kita kaum muda, tak lepas dari yang namanya bermasyarakat. Karena masa muda adalah awal kita berproses masuk dalam fase bermasyarakat seutuhnya. Dulu saya pernah menjalani masa-masa the power of putih abu-abu. Ceileee… gayanya.

Masih ingat ketika doeloe lirik lagi bang Haji Oma. masa-masa SMA masih hits. Potongan liriknya begini ni…

Darah muda darahnya para remaja
Yang selalu merasa gagah
Tak pernah mau mengalah
Masa muda masa yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri
Walau salah tak perduli

Darah muda

Biasanya para remaja
Berpikirnya sekali saja
Tanpa menghiraukan akibatnya
Wahai kawan para remaja

Waspadalah dalam melangkah

Agar tidak menyesal akhirnya

Ya, memang remaja adalah masa muda awal kalau istilahnya oom Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.

Jadi, kalo saya ambil kesimpulan remaja itu awal dari masa muda, boleh kan? boleh laa…

Intinya remaja itu masa peralihan, yaitu masa peralihan status interim sebagai akibat  posisi yang sebagian diberikan oleh orang tua dan sebagian diperoleh melalui usaha sendiri yang selanjutnya memberikan prestise tertentu padanya yang diperlukan remaja untuk belajar memikul tanggung jawab di masa dewasa  (Monks, dkk, 1999).

WHO menetapkan batasan usia konkritnya adalah berkisar antara 10-20 tahun. Kemudian WHO membagi kurun usia tersebut dalam dua bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun, dan remaja akhir 15-20 tahun.

jelasnya masih muda yee…

Keprihatinan banyak pihak pada remaja usia muda ini adalah target dari sebaran berita-berita hoax paling besar. Ambil contoh menurut laporan dari Sue Shellenbarger di situs wsj.com (Wall Street Journal) menyebutkan, sebuah penelitian yang dilakukan pada 8.000 pelajar (dari siswa SD hingga mahasiswa)  membuktikan,  banyak dari remaja yang tidak bisa membedakan situs palsu dan media profesional.

wooww… sedih yaa, kox bisa??

Karena aktivitas mereka yang sehari-hari tak lepas dari gadget. Lagi pula kecenderungan mereka yang menggunakan media sosial sekadar untuk mengunggah foto narsis dan bersosialisasi dengan teman-teman, sehingga seringkali mereka dengan polosnya tidak bisa mengenali informasi yang palsu.

Benar juga lirik diatas kadang remaja itu

Biasanya para remaja
Berpikirnya sekali saja
Tanpa menghiraukan akibatnya

Akhirnya

Walau salah tak perduli

Sikap mental ini lah yang harus di rubah pada usia remaja.

So, bagaimana seharusnya remaja menggunakan sosmed? Apa saja tips-tipsnya? Apa saja peran penting orang tua dalam mendidik anak usia remaja?

Lanjut mantra SSS part 2. Cekidot guys…

Sumber

  1. Monks, F. J., dkk. (1999). Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  2. Santrock. J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja. (edisi keenam) Jakarta: Erlangga.

Gambar

@graviscommunity

Top